Apo Itu Barang Mudo?


Di Sumatra Barat, “barang mudo” itu bukan sekadar kata. Di dapur rumah awak, di pasar, di lapau, “barang mudo” adalah yang paling sering dicari: sayur segar, cabai, bawang, rempah-rempah, dan hasil bumi yang bikin masakan jadi “hidup”.

BarangMudo.com lahir dari cerita yang dekat dengan keseharian itu—cerita tentang petani, tentang harga yang kadang tidak adil, tentang keluarga yang ingin belanja cepat tapi tetap yakin kualitasnya, dan tentang kito nan ingin teknologi itu benar-benar jadi solusi, bukan malah nambah beban.


Awal Mula: dari niat PKM, jadi ide yang serius

Sebelum jadi penelitian skripsi di tahun 2021, awalnya di tahun 2020 kito berempat punya rencana ikut Program Kreativitas Mahasiswa (PKM)—ajang bergengsi dari Ditjen Diktiristek untuk mendorong kreativitas, inovasi, dan kemampuan menulis mahasiswa Indonesia.

Waktu itu, cara berpikir kito sederhana:
“Coba cari, apo yang sebenarnya dibutuhkan orang—tapi belum ada solusinya di daerah?”

Kito mulai menginterview kawan-kawan mahasiswa dari berbagai daerah, menanyakan: gaps apo yang harusnya bisa selesai dengan teknologi, tapi sampai kini belum jalan.

Dari situlah kito bertemu cerita yang “nampak kecil”, tapi sebenarnya besar.


Bertemu Weziza: cerita dari Talang Babungo yang bikin kito paham

Salah satu yang kito temui adalah Weziza Putra, S.Kom—mahasiswa sarjana seperti kito, tapi beliau juga petani bawang dan termasuk tokoh masyarakat yang disegani di kampungnyo.

Beliau bercerita tentang daerahnyo: Talang Babungo, Solok Selatan, wilayah dingin nan dekat Gunung Talang. Tanahnya subur, hasil buminya kuat: cabai, bawang, rempah-rempah, dan macam-macam sayur tumbuh bagus.

Kondisi ini makin terasa di tahun-tahun terakhir (sekitar 2020), karena struktur tanah dari sisa letusan Gunung Talang tahun 2005 ikut membentuk ekosistem tanah yang makin subur, sehingga hasil pertanian beradaptasi dengan baik dan produksinya meningkat.

Tapi masalahnya muncul di ujung: harga.

Di daerah produsen, bawang bisa dihargai sekitar 12 ribu/kg, sementara di Kota Padang bisa sampai 45 ribu/kg. Jomplang. Jauh.

Menurut cerita yang kito dengar, salah satu penyebabnya adalah permainan rantai distribusi: tengkulak/touke yang mengendalikan harga karena akses pasar dan persaingan yang tidak seimbang. Permintaan di kota sebenarnya ada, tapi “aliran” permintaannya seakan terkumpul di sisi tertentu saja. Akibatnya, petani jadi pihak yang paling sering “mengalah”.

Di titik itu, kito sadar:
digitalisasi bukan soal gaya-gayaan. Ini soal membuka akses dan transparansi.


Kenapa Barang Mudo jadi solusi: transparansi, kemitraan, dan pasar yang lebih sehat

Kito mengangkat digitalisasi perdagangan hasil bumi ini karena kito percaya:

Kalau semakin banyak retail/mitra yang transparan dalam pasang harga, maka:

  • petani punya referensi harga yang lebih jelas,
  • posisi tawar petani jadi lebih kuat saat negosiasi dengan touke,
  • dan pasar perlahan bisa jadi lebih stabil.

Dan karena itulah BarangMudo.com kito jalankan dengan sifat kemitraan:
bukan menutup pintu, tapi membuka kerja sama—retail atau touke bisa mengajukan kolaborasi dengan brand kito.

Alhamdulillah, saat ini kito sudah punya mitra: Berkah Sayur di Lubuk Minturun.


Dari riset skripsi 2021: lahir “Barang Mudo” sebagai brand

Pada tahun 2021, penelitian ini kemudian disusun jadi skripsi oleh tim kito yang beranggotakan:

  • Rahmat, S.Kom (Alm)
  • Annisa Sofian, S.Kom
  • Jawaldi, S.Kom
  • Rizky Triananda, S.Kom
  • Rahmat Nur, S.Kom

Dalam perjalanannya, kito dibimbing langsung oleh Rektor kampus, yaitu Bapak Imam Gunawan, S.Kom, M.Kom. Dan secara tidak langsung juga mendapat arahan dari Owner Pendiri kampus, Bapak Irwan Kinun, S.E., Akt., M.Kom.

Bahkan waktu itu, ide dan hasilnya sempat kito presentasikan untuk peluang kerja sama dengan bisnis retail (minimarket) milik Pak Kinun. Walaupun belum ada investasi langsung saat itu, beliau menekankan satu hal yang sampai kini kito pegang:

“Mulai dulu. Jalankan dulu. Biar valuasi dan arah brand jadi jelas. Nanti prospeknya kita tinjau ulang.”

Selain itu, dalam penyusunan identitas brand, kito juga mendapat arahan dari Mulyandri Ramadhan Bachtiar (Pak Andri) dari Malala Tour Indonesia (MTI)—yang dikenal sebagai tim dari Pak Ridwan Tulus, founder pariwisata Sumatra Beyond, serta sudah lama dipercaya sebagai pakar green tourism di Sumatra Barat.

Dengan pengalaman Pak Andri dalam hal pertanian (termasuk tanaman organik) dan kedekatan beliau dengan kultur masyarakat Sumatra Barat, kito menyusun brand supaya seidentik mungkin dan mudah dikenal. Maka lahirlah nama:

“Barang Mudo”
yang dalam pemahaman masyarakat Minang merujuk pada produk hasil bumi untuk kebutuhan masak—yang kalau dibahasakan dalam bahasa Indonesia: sayur segar dan rempah-rempah.


BarangMudo.com hari ini

Hari ini, BarangMudo.com kito bangun untuk menjawab kebutuhan yang nyata:

  • Saat orang makin sering pakai smartphone untuk transaksi,
  • tapi marketplace umum sering belum pas untuk kebutuhan “barang mudo” yang spesifik,
  • ongkir dan harga bisa bikin orang merasa lebih mahal daripada belanja langsung,
  • dan sebagian masyarakat masih ragu soal kualitas jika belanja sayur/rempah lewat platform umum.

Di saat yang sama, kondisi seperti pandemi COVID-19 juga pernah membuktikan: masyarakat butuh cara belanja yang aman, cepat, dan tidak menyulitkan.

Maka kito hadir sebagai e-commerce yang fokus:
belanja hasil bumi segar yang jelas asalnya, jelas kualitasnya, dan bisa jadi lebih adil bagi semua pihak—konsumen, retail, dan petani.


Janji kito untuk awak semua

Kito paham, urusan sayur dan rempah itu urusan rasa di rumah. Jadi kito berusaha menjaga:

  • Kesegaran & kualitas produk
  • Kemudahan belanja lewat online
  • Harga yang masuk akal
  • Kemitraan yang terbuka agar ekosistemnya sehat

Karena bagi kito, Barang Mudo bukan cuma toko. Ini jalan panjang untuk bikin rantai hasil bumi lebih rapi—supaya yang menanam tidak dirugikan, dan yang membeli juga tidak dibebankan.